Senin, 20 Juni 2016




LAPORAN KLINIK DINA
IBU HAMIL PADA TRIMESTER III DENGAN PLASENTA PREVIA
DI
S
U
S
U
N
OLEH :
1.     FITRI GULTOM                                    (0114421440007)
2.     MASDELA PANJAITAN                       (0114421440012)
3.     REKA AKHANNA                                 (0114421440018)

DOSEN PEMBIMBING :  NELVA RIZA, SST, M. Kes.





AKADEMI KEBIDANAN NUSANTARA 2000 MEDAN
T.A. 2015/2016
DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                                                  i
Daftar Isi                                                                                                           ii
Bab I Pendahuluan                                                                                            1
1.1. Latar Belakang Masalah                                                                             1
1.2. Perumusan Masalah                                                                                    2
1.3. Tujuan Laporan                                                                                           2
1.4. Manfaat Laporan                                                                                         2
Bab II Tinjauan Pustaka                                                                                    3
2.1.   Kehamilan Dengan Perdarahan                                                                
2.2.   Perdarahan Plasenta Previa                                                                       
2.3.   
Bab III Tinjauan Kasus
Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil pada Trimsester III
dengan Plasenta Previa                                                                                     
Bab IV Penutup                                                                                                
3.1. Kesimpulan                                                                                               
3.2. Saran                                                                                                         
Daftar Pustaka                                                                                                  







BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Organisasi Kesehaatan Dunia (WHO) memperkirakan diseluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal. Di Indonesia menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI ) tahun 2009 Angka Kematian Ibu ( AKI ) masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup, dan menurut survei kesehatan daerah Angka Kematian Ibu di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 adalah 20 orang dengan jumlah kelahiran hidup 24.176 orang. Tingginya angka kematian ibu itu menempatkan Indonesia pada urutan teratas di ASEAN dalam hal tersebut. Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001 menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia 396 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan hasil survei 1995, yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup. Departemen Kesehatan menargetkan tahun 2010 angka kematian ibu turun menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Namun target tersebut masih jauh untuk dicapai (Prawirohardjo, 2009).
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan (40-60%), infeksi (20-30%) dan keracunan kehamilan (20-30%), sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya (Karkata, 2007).
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal, plasenta terletak di bagian atas uterus, biasanya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Angka kejadian plasenta previa adala 0,4-0,6% dari keseluruhan persalinan. Dengan penatalaksanaan yang baik mortalitas perinatal adalah 50 per 1000 kelahiran hidup. Pada awal kehamilan, plasenta mulai terbentuk, berbentuk bundar, berupa organ datar yang bertanggung jawab menyediakan oksigen dan nutrisi untuk pertumbuhan bayi dan membuang produk sampah dari darah bayi. Plasenta

melekat pada dinding uterus dan pada tali pusat bayi, yang membentuk hubungan penting antara ibu dan bayi (Davood, 2008).

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, perumusan masalah yang akan dilaporkan adalah tindak lanjut bidan dalam menangani ibu hamil dengan perdarahan kehamilan.

1.3. Tujuan Laporan
1.             Tujuan Umum
Untuk mengetahui paritas ibu dengan kejadian plasenta previa di Klinik Dina.
2.             Tujuan Khusus
a. Mengetahui salah satu faktor risiko ibu hamil yang mengalami plasenta previa.
b. Mengetahui penyebab ibu yang mengalami plasenta previa.

1.4. Manfaat Laporan
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan manfaat teoritis ibu dengan kejadian plasenta previa.
b. Menyediakan asuhan kebidanan untuk penilaian lanjutan yang berhubungan dengan plasenta previa.
2. Manfaat Aplikatif
a. Untuk melakukan deteksi dini terhadap kejadian plasenta previa.
b. Untuk mengurangi plasenta previa dengan upaya preventif pada ibu multiparitas.
c. Hasil laporan dapat menjadi informasi bagi mahasiswa mengenai faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta previa dan bertindak segera agar tidak terjadi keparahan akibat penyakit.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Kehamilan Dengan Perdarahan

Perdarahan pada bagian akhir kehamilan merupakan ancaman serius terhadap kesehatan dan jiwa baik ibu maupun anak. Plasenta previa dan solusio plasenta menjadi bagian terbesar kasus-kasus ini. (Oxorn, Forte)
Perdarahan dengan kehamilan memberikan dampak yang sangat membahayakan ibu maupun janin dalam kandungan. Sekalipun demikian perdarahan yang terjadi mungkin berkala, bukan dari kehamilan seperti pembuluh darah pecah (varises), polip dari mulut rahim. Perdarahan tersebut tentu tidak membahayakan ibu dan janinnya. (Sujiyatini, dkk. 2009)
Perdarahan pada kehamilan secara umu disebabkan oleh faktor obstetrik dan non obstetrik. Penyebab utama perdarahan pada kehamilan muda antara lain keguguran (abortus), kehamilan ektopik dan mola hidatidosa. Perdarahan antepartum ialah perdarahan pada trimester terakhir kehamilan. Penyebab utama perdarahan antepartum ialah :
1.    Plasenta Previa; dan
2.    Solusio Plasenta.
Faktor non obstetrik meliputi luka jalan lahir akibat terjatuh, koitus atau varises yang pecah dan oleh kelainan serviks seperti karsinoma, erosi dan polip. (martaadisoebrata, dkk. 2013)

2.5.   Perdarahan Plasenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian/ seluruh ostium uteri internum. (Prae artinya didepan, vias artinya jalan). Implantasi plasenta yang normal ialah pada dinding depan, dinding belakang rahim, atau didaerah fundus uteri. (Fadlun, Feryanto. 2012)


A.      Klasifikasi

Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta previa melalui pembukaan jalan lahir, yaitu sebagai berikut:
1.    Plasenta pervia totalis                                  : Seluruh ostium internum serviks tertutup oleh
                                                                       plasenta
2.    Plasenta previa lateralis                               : Hanya sebagian dari ostium tertutup oleh
                                                                       plasenta
3.    Plasenta previa marginalis                           : Jika tepi plasenta terletak dibagian ostium
                                                                       internum.
4.    Plasenta letak rendah                                   : Jika plasenta terletak pada segmen bawah
                                                                       uterus, tetapi tidak sampai menutupi
                                                                       pembukaan jalan lahir.(Fadlun,Feryanto. 2012)


 





Gambar : plasenta letak normal dan letak rendah.
    
Kadang-kadang dipergunakan istilah plasenta previa sentralis, dan istilah yang dimaksud ialah plasenta yang terletak sentral, terhadap ostium uteri internum. Penentuan macamnya plasenta previa bergantung pada besarnya pembukaan, misalnya plsenta previa marginalis pada pembukaan 2 cm dapat menjadi plasenta previa lateralis pada pembukaan 5 cm. Begitu pula plasenta previa totalis  pada pembukaan 3 cm, dapat menjadi lateralis pada pembukaan 6 cm. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)
Oleh karena itu, penentuan macamnya plasenta previa harus disertai dengsan keterangan mengenai besarnya pembukaan, misalnya plasenta previa lateralis pada pembukaan 5 cm. Terdapat 1 kelompok yang tidak dimaksudkan kedalam plasenta previa, yaitu plasenta letak rendah-plasenta yang implantasinya rendah, tetapi tidak sampai ke ostium uteri internum. Dengan kemajuan diagnostik, plasenta previa dapat dibedakan dengan jelas dari plasenta letak rendah. Bila plasenta previa sentralis ditegakkan secara ultrasonografi pada trimester terakhir kehamilan, kita tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan klinis dikamar operasi dan operasi dapat segera dilakukan. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)

B.  Insidensi

Kejadian plasenta previa bervariasi antara 0,3 - 0,5% dari seluruh kelahiran. Dari seluruh kasus perdarahan antepartum, plasenta previa merupakan penyebab yang terbanyak. Oleh karena itu, pada kejadian perdarahan antepartum, kemungkinan plasenta previa harus dipikirkan lebih dahulu. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)

C.  Etiologi

Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan - keadaan yang endometriumnya kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau kurang baiknya vaskularisasi desidua.
Keadan ini bisa ditemukan pada:
1.    Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya pendek.
2.    Mioma uteri
3.    Kuretasi yang berulang
4.    Umur lanjut
5.    Bekas seksio sesarea
6.    Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok atau pemakai kokain. Hipoksemi yang terjadi akibat karbon monoksida akan dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada perokok berat (lebih dari 20 batang sehari).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta harus tumbuh meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum. Endometrium ynag kurang baik juga  dapat menyebabkan zigot mencari implantasi yang lebih baik, yaitu di tempat yang rendah dekat ostium uteri internum. Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang besar dan yang luas , seperti pada eritroblastosis, diabetes melitus, atau kehamilan multipel. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)






D.  Gejala – Gejala

1.    Gejala yang terpenting ialah perdarahan tanpa nyeri
Pasien mungkin berdarah sewaktuk tidur dan sama sekali tidak terbangun; baru waktu ia bangun, ia merasa bahwa kainnya basah. Biasanya perdarahn karena plasenta previa baru timbul setelah bulan ketujuh. Hal ini disebabkan oleh:
a.    Perdarahan sebelum bulan ketujuh memberi gambaran yang tidak berbeda dari abortus
b.    Perdarahan pada plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan dinding rahim. Terjadi rengangan pada dinding rahim. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)
Keterangannya sebagai berikut:
Setelah bulan ke- 4 terjadi rengangan pada dinding rahim karena isi rahim lebih cepat  tumbuhnya dari rahim sendiri ; akibatnya istmus uteri tertarik menjadi bagian dinding korpus uteri yang disebut segmen bawah rahim. Pada plasenta previa tidak mungkin terjadi tnpa pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Saat perdarahan bergantung pada kekuatan insersi plasenta dan kekuatan tarikan pada istmus uteri jadi, dalam kehamilan tidak perlu ada his untuk menimbulkan perdarahan,tetapi sudah jelas dalam persalinan his pembukaan menyebabkan  perdarahan karenabagian plasenta diatas atau dekat ostium akan terlepas dari dasarnya. Perdarahan pada plasenta previa terjadi karena terlepasnya plasenta dari dasarnya.
Perdarahan pada plasenta previa bersifat berulang-uang karena setelah terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahi. Oleh karena itu rengangan dinding rahim dan tarikan pada serviks berkurang, tetapi dengan majunya kehamilan rangangan bertambah lagi dan menimbulkan perdarahaan baru. Darah terutama berasal dari ibu ialah dari ruangan intervilosa, tetapi dapat juga bersal dari anak jika jonjot terputus atau pembuluh darah plasenta yang lebih besar terbuka.
2.    Bagian terendah anak sangat tinggi kerena plasenta terletak pada kutup bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu atas panggul
3.    Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berkurang maka pada plasenta previa lebih sering disertai kelainan letak jika perdarahan disebabkan oleh plasenta previa lateral dan marginal serta robekannya beberapa sentimeter dari tepi plasenta.
Juga harus dikemukakan bahwa pada plasenta previa mungkin sekali terjadi perdarahan pasca persalinan kerena:
1.    Kadang - kadang plasenta lebih erat melekat pada dinding rahim (plasenta akreta)
2.    Daerah perlekatan luas.
3.    Kontraksi segmen  bahwa rahim kurang sehingga mekanisme penutupan pembuludarah pada insersi plasenta tidak baik.
Kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta lebih dekat pada ostium, dan merupakan porte’d entree yang mudah tercapai. Lagi pula, pasien biasanya anemis karena perdarahan sehingga daya tahannya lemah.
Bahaya untuk ibu pada plasenta previa, yaitu:
1.    Syok hipovolemik.
2.    Infeksi-sepsis.
3.    Emboli udara (jarang)
4.    Kelainan koagulopati sampai syok.
5.    Kematian
Bahaya untuk anak, yaitu:
1.    Hipoksia
2.    Anemia
3.    Kematian. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)

E.  Hasil Pemeriksaan Fisik

1.    Pasien tidak terasa nyeri, kecuali kalau persalinan telah dimulai.
2.    Uterus lembek dan tidak nyeri tekan.
3.    Bagian terendah janin tinggi.
4.    Denyut jantung janin biasanya terdengar.
5.    Shock jarang terjadi. (Oxorn, Forte. Ilmu Kebidanan.)

F.   Bahaya - Bahaya Pemeriksaan
Perdarahan yang terjadi pada seorang wanita hamil trimester III harus dipikirkan penyebabnya, yaitu: plasenta previa atau solusio plasenta. Bila ditemukan, dokteratau bidan harus segera mengirim pasien tersebut selekas mungkin kerumah sakit besar tanpa terlebih dahulu melakukan pemeriksaan dalam atau pemasangan tampon. Kedua tindakan ini hanya akan menambah perdarahan dan kemungkinan infeksi. Karena perdarahan pada wanita hamil kadang - kadang dsebabkan oleh varises yang pecah dan kelainan serviks (polip, erosi, ca) dirumah sakit dilakukan pemeriksaan in speculo terlebih dahulu utuk menyingkirkan kemungkinan ini. Pada plasenta previa akan terlihat darah yang keluar dari ostium uteri eksternum.
     Sebelum tersediah darah dan kamar operasi siap,tidak boleh dilakukan  pemeriksaan dalam  karena pemeriksaan dalam dini dapat menimbulkan perdarahan yang membahayakan. Dapat juga dilakukan pemeriksaan fornises dengan hati-hat. Jika tulang kepala dapat teraba dengan mudah, kemungkinan plasenta previa kecil. Sebaliknya, jika antara jari - jari kita dan kepala teraba bantalan lunak (jaringan plasenta), kemungkinan plasenta previa besar sekali. Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada presentasi kepala karena pada letak sungsang bagian terendahnya lunak (bokong) hingga sukar membedakannya dari jaringan lunak plasenta. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)

G.      Penentuan Lokasi Plasenta

1.        Pemeriksaan ultrasonik sebagai pemeriksaan yang paling aman dan akurat.
2.        Isotop radioaktif. Metode ini akurat dan aman bagi janin.
3.        Pemeriksaan sinar-x jaringan lunak dapat menentukan lokasi plasenta tepi reliabilitasnya tidak seperti kedua teknik pemeriksaan tersebut diatas. (Oxorn, Forte. Ilmu Kebidanan.)

H.      Diagnosis
Anamnesis perdarahan  tanpa keluhan, perdarahan berulang. Klinis kelainan letak  dari perabaan fornises teraba bantalan lunak pada presentasi kepala. Pemerikasaan dalam pada plasenta previa hanya dibenarkan bila dilakukan dikamar operasi yang telah siap untuk melakukan operasi segera. Segera “dauble set - up”. Ini hanya dilakukan apabila akan dilakukan terapi aktif, yaitu apabila kehamilan akan diterminasi.
       Diangnosis plasenta previa (dengan perdarahan sedikit) yang diterapi ekspektatif ditegakkan dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Dengan pemeriksaan USG transabdominal ketepatan, diagnosisnya mencapai 95-98%. Dengan USG transvaginal atau transperineal (translabial). Ketepatannya akan lebih tinggi lagi. Penggunaan magnetic resonance imaging (MRI) masih terasa sangat mahal pada sat ini.
Dengan bantuan USG, diagnosis  plasenta previa/ letak rendah sering kali sudah da[pat ditegakkan sejak dini sebelum kehamilan trimester III. Namun, dalam perkembangannya dapat tejadi migrasi plasenta. Sebenarnya, bukan plasenta yang “berpindah”, tetapi dengan semakin berkembangnya segmen bawah rahim, plasenta (yang berimplantasi di situ) akan ikut naik menjauhi ostium internum
Sikap untuk segera mengirim pasien kerumah sakit (yang mempunyai fasilitas operasi) tanpa lebih duly melakukan pemeriksaan dalam atau pemasangan tampon sangat dihargai, hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa:
1.    Perdarahan pertama pada plasenta previa jarang membawa maut.
2.    Pemeriksaan dalam dapat menimbulkan perdarahan yang hebat.
Dalam keadaan  terpaksa, misalnya pasien tidak mungkin untuk diangkut ke kota / rumah sakit besar, sedangkan tindakan darurat harus segera diambil maka seorang dokter atau bidan  dapat melakukan pemeriksaan dalam setelah melakukan persiapan yang secukupnya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perdarahan masif. (Martaadisoebrata,dkk. 2013)

I.     Terapi
Dalam menghadapi plasenta previa dapat dilakukan tindakan oleh bidan yang menghadapinya dengan cara berikut :
1.      Pasang infus dengan cairan pengganti (Chloret, Laktat Ringer, Glukosa Ringer)
2.      Jangan melakukan pemeriksaan dalam karena akan berakibat perdarahan bertambah banyak.
3.      Segera melakukan tindakan trujukan ke rumah sakit dengan fasilitas yang cukup untuk tindakan operasi dan sebagainya.
Disamping itu apabila terpaksa melakukan persalinan pada janin dalam keadaan janin prematuritas maka diperlukan asuhan neonatus di unit perawatan intensif. Dalam kasus yang sangat istimewa, misalnya prematuritas, dan setelah dilakukan pemeriksaan dalam di kamar operasi ternyata ditemukan plasenta previa marginalis, dapat dilakukan terapi “memecah ketuban” untuk menghentikan perdarahan.
Tekanan bagian terbawah janin akan menekan plasenta previa sehingga perdarahan berhenti. Dalam kasus ini seolah-olah janin dikorbankan karena memang keadaannya sangat inferior sehingga kehidupannya dapat dipastikan tidak terlalu lama. Tujuannya untuk menyelamatkan jiwa ibunya dari morbiditas serta mortalitas yang lebih tinggi. (Manuaba, dkk. 2008)
Penderita plasenta previa juga harus diberikan antibiotik, mengingat kemungkinan infeksi yang besar akibat perdarahan dan tindakan – tindakan intra uterin. Jenis persalinan yang dipilih untuk menangani plasenta previa dan waktu pelaksanaannya tergantung pada faktor – faktor :
1.      Perdarahan banyak atau sedikit.
2.      Keadaan ibu dan anak
3.      Besarnya pembukaan
4.      Tingkat plasenta previa
5.      Paritas.
Perlu diperhatikan bahwa sebelum melakukan tindakan apapun kepada pasien penderita plasenta previa, darah harus selalu sedia cukup. (Martaadisoebrata, dkk. 2013)














BAB III
TINJAUAN KASUS

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN PLASENTA PREVIA

I.     PENGUMPULAN DATA
A.      IDENTITAS/BIODATA
Nama                    : Ny. Rina                                Nama               : Tn. Adi
Umur                    : 23 Tahun                               Umur               : 25 Tahun
Suku/Bangsa        : Melayu/Indonesia                 Suku/Bangsa   : MelayuIndonesia
Agama                  : Islam                                     Agama             : Islam
Pendidikan           : SMA                                     Pendidikan      : SMP
Pekerjaan              : IRT                                        Pekerjaan         : Wiraswasta   
Alamat                 : Jln. Bromo                             Alamat            : Jln. Bromo
Pengasilan            : -                                             Penghasilan     : Rp. 2.500.000

B.       ANAMNESA (Data Subjektif)
Pada Tanggal : 27 Mei  2016                   Pukul               : 12.30 WIB
1.    Alasan Kunjungan saat ini      : Periksa Kehamilan kunjungan ulang.
2.    Keluhan-keluhan                     : Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan tanpa rasa
                                        nyeri.
3.    Riwayat menstruasi
-          Haid Pertama                               : 14 Tahun                              
-          Siklus Haid                                  : 28 hari
-          Banyaknya                                   : 3 x ganti doek
-          Disminorhea                                 : Tidak Ada
-          Teratur/Tidak                               : Teratur
-          Lamanya                                      : 7 Hari
-          Sifat darah                                   : Encer
4.    Riwayat Kehamilan,Persalinan dan nifas yang lalu
No
Tgl Lahir/ Umur
Jenis persalinan
Tempat persalinan
Kompli
Kasi
Penolong
Bayi

Nifas
PB (cm)
BB (gr)
JK

1.
H
A
M
I
L
I
N
I


5.    Riwayat Kehamilan ini
G : I     P : 0          A :0
-       HPHT                                             : 21-10-2015
-       TTP                                                 : 28-07-2016
-       Keluhan pada trimester I                : Mual muntah dan pusing
-       Keluhan pada trimester II              : Sulit tidur
-       Keluhan pada trimester III             : keluar darah dari kemaluan
                                                         namun tidak ada rasa nyeri
-       Pergerakan janin pertama kali         : Pada usia kehamilan 16 minggu
-       Frekuensi pergerakan                      : (10 x dalam 24 jam)
-       Diet                                                 : Nasi (1 Piring kecil) + Sayur 1
                                                         mangkok + Ikan 1 potong + Buah 1 biji + Susu
                                                         1 gelas.
-       Frekuensi                                        : 3x sehari
-       Perubahan makan yang dialami      : Tidak ada
-       Pola Eliminasi BAK                       : ± 10 kali/hari
-       BAB                                               : 1 kali/hari
-       Pola Aktivitas Sehari-hari              
§  Istirahat                                      : Tidur siang ± 2 jam
                                                 : Tidur malam ± 7 jam
§  Seksualitas                                 : 2 x Seminggu
§  Imunisasi TT1                            : Tanggal 07 Mei 2105
§  Imunisasi TT2                            : Belum diberikan
§  Kunjungan ANC                       : Teratur


6.    Riwayat penyakit
v Jantung                                           : Tidak ada
v Ginjal                                              : Tidak ada
v Asma/TB.Paru                                : Tidak ada
v Hepatitis                                         : Tidak ada
v DM                                                 : Tidak ada
v Hipertensi                                       : Tidak ada
v Epilepsi                                           : Tidak ada
v Gameli                                            : Tidak ada
7.    Riwayat Sosial
v Status Perkawinan                                      : Sah
v Perkawinan yang ke                                   : 1 (satu)
v Kehamilan                                                  : Direncanakan
v Perasaan tentang kehamilan                       : Bahagia
v Pengambilan keputusan dlm keluarga        : Suami
v Susunan keluarga yang tinggal dalam satu rumah
No
JK
Hubungan keluarga
Pendidikan
Pekerjaan
Keterangan
1
Suami
SMP
Wiraswasta
Sehat

C.      PEMERIKSAAN FISIK (Data Objektif)
1.         Keadaan/Umum                                            : Baik
2.         Status Emosional                                          : Stabil
3.         Pemeriksaan Fisik                            
v TB                                                            : 159 Cm
v BB sebelum hamil                                    : 50 Kg
v BB sekarang                                             : 61 Kg
v Lila                                                           : 25 Cm
4.         Tanda Vital
v TD                                                : 110/80 mmHg
v Pols                                              : 80 x/i
v RR                                                : 22 x/i
v Temp                                            : 37 º C

5.         Kepala
v Kulit Kepala                                 : Bersih
v Distribusi rambut                         : Rapat dan tidak rontok
6.         Muka/Wajah
v Oedema                                        : Tidak ada
v Clousma Gravidarum                   : Tidak ada
v Pucat                                            : Tidak Pucat
7.         Mata
v Oedema Palpebra                         : Tidak ada
v Conjungtiva                                 : Tidak pucat
v Sclera                                           : Tidak kuning
8.      Hidung
v Polip                                             : Tidak ada
v Pengeluaran                                  : Tidak ada
9.         Mulut
v Lidah                                            : Bersih
v Epulsi pada gigi                           : Tidak ada
v Peradangan Tonsil                        : Tidak ada
v Peradangan Pharink                     : Tidak ada
v Stomatitis                                     : Tidak ada
v Caries                                           : Ada
10.     Telinga
v Serumen                                       : Tidak ada     
v Pengeluaran                                  : Tidak ada
11.     Leher
v Luka Bekas Operasi                     : Tidak ada
v Pembesaran Kelenjar tiroid          : Tidak ada
v Pembesaran Kelenjar Limfe         : Tidak ada
12.     Dada
v Mammae                                      : Asimetris
v Areola Mammae                           : Menghitam
v Putting Susu                                 : Menonjol
v Benjolan/tumor                            : Tidak ada
v Pengeluaran diputting susu          : Ada
13.     Axilla
v Pembesaran kelenjar limfe           : Tidak ada
14.     Posisi punggung                                : Lardosis
15.     Abdomen
v Pembesaran perut                         : Asimetris
v Linea/Striae                                  : Nigra/Albikan
v Bekas luka operasi                       : Tidak ada
v Pergerakan Janin                          : Ada
v Perkusi abdomen                          : Tidak dilakukan

“PEMERIKSAAN KEBIDANAN”
v  Kontraksi                                             : Ada
v  Palpasi supra pubis kandung kemih    : Kosong
v  Palpasi Uterus
-            Leopold I                                          : ± 28 cm
-            Leopold II                                        : Teraba bagian keras, panjang dan
                                                                   memapan dibagian perut kanan ibu
                                                                   (PUKA).
-            Leopold III                                       :Teraba keras, bulat dan melenting
                                                            dibagian bawah perut ibu atau simfisis (   
                                                            letak Kepala).
-            Leopold IV                                       : Kepala janin belum masuk PAP
                                                                   (Konvergen)
v  Auskultasi
-            DJJ                                                    : 136 x/menit
-            Kontraksi                                          : Teratur
-            TBBJ                                                 : (28-12) X 155 = 2480 Gram
“PEMERIKSAAN PANGGUL”
-          Distansia Spinarum                   : 24 Cm
-          Distansia Kristarum                  : 25 Cm
-          Conjungata Ekterna                  : 18 Cm
-          Lingkar Panggul                        : 82 Cm

16.     Genetalia
v Vulva dan Vagina
-          Pengeluaran                        : Tidak ada
-          Varices                                : Tidak ada
-          Kemerahan                         : Tidak ada
-          Luka                                   : Tidak ada
-          Nyeri                                  : Tidak ada
-          Perenium                             : Tidak ada bekas luka
-          Anus                                   : Tidak ada hemoroid
17.     Pinggang
-       Nyeri pinggang                               : Ada
18.    Ektremitas
-       Oedema pada tangan dan jari         : Tidak ada
-       Varices pada tungkai                      : Tidak ada
-       Refleks Patella ka-ki                       : Ada
-       Kekakuan sendi                              : Tidak ada

D.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.    Pemeriksaan Protein Urine                  : Tidak dilakukan
2.    Pemeriksaan Glukosa Urine                : Tidak dilakukan
3.    Pemeriksaan HB                                  : Tidak dilakukan

II.      IDENTIFIKASI DIAGNOSA MASALAH DAN KEBUTUHAN
Diagnosa   : Ibu primigravida, usia kehamilan 28 minggu + 2 hari, persentase kepala,punggung kanan, konvergen, janin hidup tunggal, intra uterin.
Data dasar       : G: I   P: 0    A: 0
·      HPHT           : 21-10-2015
·      TTP               : 28-07-2016
·      Leopold I      : TFU 28 cm
·      Leopold II    :Teraba bagian keras,panjang dan memapan dibagian kanan
                         perut ibu (PUKA)
·      Leopold III   : Teraba keras, bulat dan melenting dibawah perut ibu atau     
                         simfisis (letak Kepala)
·      Leopold IV   : Kepala janin belum masuk PAP (konvergen).
Masalah                       : Ibu mengatakan perutnya tidak ada rasa nyeri, keluar darah dari
                                        kemaluan.
Kebutuhan                  : Periksa ke rumah sakit.
III.   IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
“Kematian Ibu dan Janin atau Premature”

IV.    IDENTIFIKASI AKAN TINDAKAN SEGERA
“Pasang Infus dan Rujukan”

V.      PERENCANAAN
1.        Memberikan informasi kepada ibu dan keluarga mengenai hasil pemeriksaan
2.        Memberikan ibu infus RL atau NaCL
3.        Melakukan pemantau DJJ
4.        Melakukan rujukan apabila terjadi perdarahan
5.        Menganjurkan kepada ibu untuk melakukan kunjungan apabila ada keluhan

VI.   PELAKSANAAN
  Tanggal : 27 Mei 2016                                              Pukul : 12.50 WIB
1.    Memberikan informasi kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janin dalam keadaan sehat, usia kehamilan 37 minggu 2 hari.
TD                        : 110/80 mmhg                                    RR       : 22 x/menit
Pols                      : 80 x/i                                                 Temp   : 37 º C
2.    Memasang infus RL 0,9% untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh ibu sehingga ibu tidak mengalami dehidrasi maupun syok.
3.    Memantau DJJ setiap setengah jam sekali. DJJ normal 136x/i.
4.     Membuat surat rujukan kemudian melakukan rujukan terhadap si ibu untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik di Rumah Sakit.
5.    Memberitahukan kepada ibu untuk lakukan kunjungan ulang, apabila ada keluhan – keluhan yang ibu rasakan selama hamil.


VII.     EVALUASI
1.    Keluarga dan ibu telah mengetahui keadaan ibu saat ini kurang baik.
2.    Ibu sudah diberikan cairan RL.
3.    Hasil pemantauan DJJ baik saat ini.
4.    Ibu di rujuk ke Rumah Sakit untuk mendapat penanganan yang jauh lebih baik.
5.    Ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang apabila ada keluhan yang ibu rasakan.
BAB IV
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Perdarahan dalam kehamilan adalah tidak normal dan harus segera diperiksakan, ditakutkan terjadi sesuai yang mempengaruhi si ibu dan si janin. Dari yang telah diuraikan di atas , dapat di simpulkan bahwa plasenta previa sangat membahayakan ibu untuk melahirkan normal. Di karenakan plasenta previa menutupi jalan lahir sehingga janin sulit untuk lahir.
Plasenta previa merupkan salah satu dari penyebab perdarahan antepartum. Plasenta previa dibagi atas 3 yaitu : plasenta previa totalis, plasenta previa marginalis dan plasenta lateralis. Penanganan yang dapat dilakukan adalah merujuk ibu ke rumah sakit untuk dapat melihat perkembangan kehamilannya. Karena bidan hanya menangani kasus yang normal dan tidak berhak untuk menangani kasus obstetri.
Penanganan yang diberikan adalah memberikan cairan infus untuk memenuhi kebutuhan cairan ibu agar ibu tidak dehidrasi, mempersiapkan rujukan agar ibu mendapatkan penanganan yang jauh lebik baik lagi, dan terutama jangan sesekali melakukan pemeriksaan dalam, karena akan menimbulkan perdarahan yang jauh sangat banyak.
Biasanya plasenta previa ditandai dengan keluarnya darah dari vagina namun tidak disertai rasa nyeri.

3.2. Saran

1.        Apabila bidan mendapatkan kasus ini, sebaiknya segera merujuk ibu ke rumah sakit terdekat.
2.        Bidan sebaiknya memberikan dukungan moril kepada si ibu agar ibu tetap tenang dan tidak panik, agar perdarahan tidak semakin banyak.
3.        Ibu sebaiknya segera memeriksakan kandungannya apabila sudah mendapat tanda-tanda bahaya. Seperti perdarahan pada vagina.
4.        ibu hendaknya sering mengunjungi bidan sedikitnya 4 kali dalam masa kehamilan agar si ibu mengetahui apa saja tanda bahaya dalam kehamilan.
5.      Mahasiswa sebaiknya banyak membaca agar memahami apa yang dimaksud dengan plasenta previa serta bagaimana penanganannya.
6.      Jika mahasiswa menemukan kasus plasenta previa seperti di atas, sebaiknya segera lakukan pemberian infus kemudian jangan melakukan pemeriksaan dalam, setelah itu lakukan tindakan rujukan segera.
7.      Kampus Akbid Nusantara 2000 Medan sebaiknya dapat mempergunakan laporan ini dengan sebaiknya. Agar dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang lainnya.




















DAFTAR PUSTAKA
Nugroho Taufan. 2010. Buku Ajar Obstetri Untuk Mahasiswa Kebidanan. Cetakan Pertama. Yogjakarta : Nuha Medika.
Mochtar Rustam. 1998. Sinopsis Obsrtetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta : EGC.
Sulistyawati Ari. 2011. Asuhan Kebidanan pada Masa Kehamilan. Jakarta : Salemba Medika.
Yulianti Devi, dkk. 2005. Buku Saku Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinan. Jakarta : EGC.
Sastrawinata Sulaiman, dkk. 2004. Obstetri Patologi. Jakarta : EGC.
Sastrawinata Sulaiman. 1981. Obstetri Patologi. Bandung : Elstar Offset.
Oxorn Harry, R. Forte William. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan Human Labor And Birth. Yogyakarta : Andi Offset.
Fadlun, Feryanto Achmad. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika.
Sujiyatini, dkk. 2009. Asuhan Patologi Kebidanan. Jogjakarta : Nuha Medika.
Martaadisoebrata, dkk. 2013. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC.
Mangkuji, dkk. 2012. Asuhan Kebidanan 7 Langkah Soap. Jakarta : EGC.
Manuaba, dkk. 2008. Gawat Darurat Obstetri Ginekologi Dan Obstetri Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta : EGC.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar